Naskah Proklamasi Disusun Oleh?

teks Proklamasi Kemerdekaan disusun oleh tiga orang, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Achmad Subardjo.
Teks proklamasi kemerdekaan Indonesia disusun di ruang makan rumah Laksamana Tadashi Maeda (Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta Pusat, sekarang Museum Perumusan Teks Proklamasi) pada pukul 02.00-04.00 pagi oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Pak Ahmad Soebarjo. Sementara itu, di ruang depan adalah B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro.

Kalimat pertama teks Proklamasi adalah saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari perumusan Badan Investigasi untuk Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dan kalimat terakhir disarankan oleh Mohammad Hatta. Ir. Soekarno menulis teks naskah "Proklamasi Klad",
Kemudian, Mohamad Ibnu Sayuti Melik mengetik teks proklamasi yang telah mengalami perubahan, yang dikenal sebagai "Proklamasi Otentik".

Kemudian, Sukarni menyarankan bahwa orang yang menandatangani teks proklamasi adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama rakyat Indonesia.

Meskipun berbagai kendala, penyebaran proklamasi berita kemerdekaan Indonesia masih dilakukan secara intensif. Salah satu cara untuk menyebarkan berita adalah melalui kantor berita Jepang Domai berulang kali setiap 30 menit hingga siaran berakhir pukul 16.00. Selain itu, penyebaran berita juga dilakukan melalui surat kabar, dimulai oleh Soeara Asia di Surabaya.

Kemudian, hampir semua surat kabar di Jawa pada 20 Agustus 1945 memuat berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Proklamasi kemerdekaan juga disebarluaskan kepada rakyat Indonesia melalui pemasangan plakat, poster, dan grafiti di dinding dan mobil kereta api. Selain melalui media massa, berita proklamasi juga disebarkan langsung oleh delegasi daerah yang menghadiri sesi PPKI.

Ketika teks teks Proklamasi dibaca oleh Sukarno, tidak ada yang merekam suara atau video. Dokumentasi hanya dalam bentuk foto-foto Proklamasi. Jika saat ini kita mendengar rekaman suara asli Sukarno membaca teks proklamasi, itu sebenarnya bukan suara yang direkam pada 17 Agustus 1945, tetapi suara aslinya direkam pada tahun 1951 di studio Radio Republik Indonesia (RRI). Rekaman suara ini diprakarsai oleh salah satu pendiri RRI, Jusuf Ronodipuro.



Add Your Comments

Disqus Comments