Pengertian Bahasa Jurnalistik Menurut Para Ahli dan 16 Cirinya

Pengertian bahasa jurnalistik - Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh wartawan, atau yang biasa dikenal sebagai bahasa pers. Bahasa jurnalistik merupakan salah satu ragam bahasa yang umumnya digunakan ketika menyampaikan suatu pesan atau informasi kepada khalayak luas, baik itu berita atau pristiwa yang sedang terjad.

Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khusus seperti: singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Akan tetapi, penyajian bahasa jurnalistik juga tidak boleh luput dari bahasa baku atau bahasa Indonesia yang sesuai EYD.

Pengertian Bahasa Jurnalistik Menurut Para Ahli

Profesor S. Wojowasito dari IKIP Malang menyatakan dalam salah satu tulisannya yang berjudul: "Bahasa Jurnalistik: Segi-segi yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu penggunanya", yang disampaiakn saat karya latihan wartawan (KLW) di Jawa Timur, tepatnya pada tanggal 22-23 September 1978.

Profesor S. Wojowasito menjelaskan pengertian bahasa jurnalistik:
"Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah dengan fungsi yang demikian itu bahasa tersebut harus jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal. Sehingga sebagian besar masyarakat yang melek huruf dapat menikmati isinya.

Walaupun demikian, tuntutan bahwa bahasa jurnalistik haruslah baik tak boleh ditinggalkan. Dengan kata lain bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan kata yang cocok".
Pendapat lain tentang pengertian bahasa jurnalistik juga disampaikan oleh Dr. Yus badudu dari pusat pembinaan dan pengembangan bahasa mengatakan di depan karya latihan wartawan (KLW) XVII Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pusat tanggal 11 November 1978:
"Bahasa surat kabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat ini harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar. Mengingat bahwa surat kabar dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuanya. Mengingat bahwa tidak harus menghabiskan waktunya hanya dengan membaca surat kabar. Harus lugas tetapi jelas, agar mudah dipahami. Orang tidak perlu mesti mengulang ngulang apa yang dibacanya, karena ketidak jelasan bahasa yang digunakan dalam surat kabar itu".
Berbeda dengan ragam bahasa pada percakapan umum, bahasa jurnalistik justru disajikan secara demokratis dan populis. Hal ini dikarenakan bahasa jurnalistik tidak tidak mengenal istilah kasta ataupun pangkat seseorang.

Contoh mudahnya jika pada percakapan atau bahasa percakapan sehari-hari kita menyebut seseorang yang memiliki usia lebih tua ataupun pangkat yang lebih tinggi menggunakan kata "Pak", maka dalam penulisan bahasa jurnalistik kita tidak perlu menggunakan kata ganti tersebut.

Seperti: "Bapak Jusuf Kalla". Dalam bahasa jurnalistik kita hanya perlu menulis namanya saja atau "Jusuf Kalla" saja. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa bahasa jurnalistik memandang semua orang berada diposisi yang sama atau berimbang. Tidak ada pengistimewaan seseorang tanpa terkecuali.

Lebih lanjut A.M Dwabrata menyatakan bahwa bahasa jurnalistik merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia bagi wartawan atas pers, dan menjadi bahasa resmi para profesi penulis berita dan media. Pers atau media yang menggunakan bahasa jurnalistik akan dilihat dari cara dan kualitasnya ketika menyampaikan topik atau isu tertentu.

Bagaimana sebenarnya ciri-ciri bahasa jurnalistik secara umum?

Bahasa jurnalistik dapat dikategorikan berdasarkan 16 kriteria atau ciri utama, yaitu:

1. Sederhana

Sederhana berarti selalu memilih kata atau kalimat yang memang mudah dimengerti oleh semua kalangan dan lapisan masyarakat.

2. Singkat

Singkat memiliki arti langsung menuju kepada pokok permasalahan. Bahasa jurnalistik dilarang menyampaikan pemberitaan secara bertele-tele atau berputar-putar. Mengapa? Karena hal ini dapat menyulitkan pembaca dalam menanggapi maksud atau informasi yang disampaikan.

3. Bahasa Jurnalistik Harus Sarat dengan Informatif

Artinya setiap kalimat yang disampaikan harus memuat banyak informasi penting dan menarik. Tidak hanya itu, bahasa jurnalistik juga harus layak untuk disajikan kepada khalayak luas.

4. Lugas

Lugas berarti tegas tidak membuat ambigu atau tidak membingungkan pembaca dalam menangkap maksud atau maksud yang disampaikan.

5. Bahasa Jurnalistik Harus Jelas

Jelas berarti mudah dipahami atau ditangkap maksudnya. Selain itu, jelas juga memiliki artian bahwa bahasa jurnalitik harus tersusun sesuai dengan kaidah bahasa baku Indonesia, yaitu subjek, predikat, objek dan keterangan (SPOK)

6. Jernih

Maksudnya, tidak menyembunyikan sesuatu hal atau menutup-nutupi hal-hal negatif. Dan, tidak juga memberitakan informasi yang dapat mengarah kepada fitnah ataupun prasangka.

7. Menarik

Bahasa jurnalistik haruslah mampu membangkitkan minat dari pembaca, memicu perhatian khalayak, memicu selera membaca dan membuat pembaca penasaran.

8. Demokratis

Bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan pangkat, kasta atau usia. Bahasa jurnalistik memiliki penyetaraan status sosial dan netral, sehingga akan memperlakukan siapapun sama rata tanpa adanya perbedaan tingkat, baik presiden, buruh, petani, pemulung serta profesi lainnya.

9. Populis

Setiap kata, istilah atau kalimat apapun bentuknya, haruslah yang familiar ditelinga setiap masyarakat.

10. Logis

Apapun yang ada dalam kata, istilah, kalimat atau paragraf harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat.

11. Gramatikal

Kata atau kalimat apapun yang digunakan dan dipilih pada setiap penggunaan bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku.

12. Tidak Menggunakan Kata Tutur

Maksudnya, menghindari penggunaan bahasa sehari-hari atau bahasa informal. Bahasa sehari-hari, contohnya adalah bahasa yang sering digunakan di tempat umum, seperti warung kopi, terminal ataupun pasar

13. Hindari Kata dan Istilah Asing

Dalam penggunaan bahasa jurnalistik, usahakan untuk tidak terlalu banyak menggunakan istilah atau bahasa asing. Selain tidak informatif, bahasa asing terkadang juga membingungkan para pembaca, khususnya yang belum begitu memahami bahasa asing

14. Pilih Kata yang Tepat

Setiap kalimat yang disusun tidak harus produktif, tetapi juga tidak boleh keluar atau melenceng dari asas efektivitas bahasa yang tepat.

15. Pilihlah Kalimat Aktif

Kalimat aktif lebih disukai dibandingkan kalimat pasif.

16. Menghindari Istilah Teknis

Kata tekhnis biasanya digunakan dalam beberapa bidang khusus, seperti dunia kedokteran dunia teknologi ataupun yang lainnya. Kata-kata tekhnis biasanya hanya dimengerti oleh kalangan tertentu saja.

Cara Menulis Berita sesuai Bahasa Jurnalistik

Sudah mempunyai topik berita yang ingin diangkat, moment pun sudah tepat dengan trend saat ini, namun Anda bingung cara menuangkannya. Pernahkah Anda mengalaminya? Jika ya, mungkin Anda perlu memahami lebih lanjut tentang cara menulis berita sesuai bahasa jurnalistik yang baik dan benar.

Pada peraktiknya, ternyata tidak semua orang bisa melakukannya. Memahami cara menulis berita yang baik memang bukanlah sebuah kewajiban.

Namun, tidak ada salahnya Anda juga mempelajarinya dan mengenal penulisan berita dengan pemahaman bahasa jurnalsitik lebih dalam. Terlebih, jika Anda memang memiliki niat melanjutkan kuliah jurusan komunikasi jurnalistik.

Mungkin, Anda sudah pernah membaca artikel cara menulis berita yang sudah banyak di-publish di internet, walaupun artikel ini memiliki garis besar yang sama, namun anggaplah sebagai bahan untuk me-review kembali.

Setelah berkunjung ke beberapa blog, akhirnya sayapun  menemukan beberapa refrensi yang pas sebagai bahan mempelajari cara menulis berita yang baik. Khususnya bagi saya yang notabennya masih pemula.

Mungkin Anda pernah membaca tentang 5W + 1H, ataupun sistem piramida terbalik. Walaupun Anda tahu teknik penulisan tersebut, namun hal itu tidak menjamin berita yang Anda tulis akan sesuai kaedah dan prinsip penulisan berita yang berlaku. Untuk mengasahnya, latihan dan tetap terus menulis adalah cara alamiah mengasah hasil dan kualitas tulisan Anda.

Cara menulis berita 5W + 1H sesuai kaidah bahasa jurnalistik

Rumus ini sebenarnya digunakan untuk menjabarkan sebuah peristiwa melalui kata tanya What (Apa), Where (Di mana), When (Kapan), Who (Siapa), Why (Mengapa) dan How (Bagaimana).

Untuk menerapkan 5W + 1H, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membuat sebuah judul berita, contohnya: "Majelis Nurul Huda Depok Menggelar Shalat Gerhana Matahari".

Ke-dua, terapkan 5W+1H dengan peristiwa yang akan diangkat. Jika kita aplikasikan sesuai dengan contoh judul diatas, maka: What (Shalat Gerhana Matahari), Where (Halaman Balai Kota Depok), When (Rabu, 8/03/2016), Who (Majelis Nurul Huda Kota Depok), Why (Berharap terlindungnya dari segala bentuk juzu: wikipedia) + How (jalannya acara berlangsung).

Ke-tiga, Anda dapat menyusun 5W yang telah Anda tetapkan sebelumnya menjadi sebuah lead berita. Buatlah lead berita kedalam satu paragraf saja. Hal ini agar pembaca lead dapat dengan mudah memahami isi berita tersebut.

Menyusun 5W tidak harus berurutan dengan pola What (Apa), Where (Di Mana), When (Kapan), Who (Siapa) dan disusul Why (Mengapa). Kita bisa merubah urutan 5W tersebut sesuai dengan kebutuhan. Untuk contoh di atas, kita bisa susun menjadi sebuah lead berikut:

“Berharap terlindung dari segala bentuk juzu, Majelis Nurul Huda Kota Depok, Jawa Barat, melakukan shalat gerhana matahari di Halaman Balai Kota Depok, Rabu, 8/03/2016”.

Ke-empat, susunanlah lead berita yang masih kaku tersebut supaya lebih mudah dibaca. Koreksi dan tambahkan kalimat dengan lebih lengkap agar informasi yang disampaikan lebih jelas. Jika perlu, susun kembali dengan menambah beberap kalimat yang akan menyambung point per-point dengan lebih baik.

Kelima, Jika pada paragraf pertama lead sudah dapat merangkum 5W tersebut, hal selanjutnya adalah mendeskripsikan proses yang terjadi dengan 1H (How) di pargaraf selanjutnya. Pastikan, tulisan 1 H tersebut tidak keluar topik yang dipilih.

Cara menulis berita yang baik sesuai struktur piramida terbalik sesuai bahasa jurnalistik

Lead Berita (Prioritas Utama)

Lead ataupun kepala berita merupakan hal utama yang menjadi prioritas. Urutannya yang berada di puncak, menandakan derajat prioritas informasi tersebut. Kenapa dalam lead berita harus memuat unsur 5 W + 1 H? Hal ini untuk mempermudah editor ketika harus memotong beberapa bagian berita karena keterbatas halaman tanpa merubah isi berita.

Dengan begitu, informasi pada lead masih dapat menjabarkan secara keseluruhan berita tersebut, dan tentunya masih layak tampil sebagai sebuah berita.

Neck Berita

Neck atau yang dikenal dengan leher berita juga memiliki prioritas yang tidak kalah penting. Bagian ini disebut leher berita, karena umumnya berperan sebagai peralihan alur ataupun sebagai penyambung ide dengan bagian lead.

Body (Badan Berita)

Badan berita umumnya adalah penjabaran gagasan yang ada dalam lead dan neck berita. Penjabaran itu bisa meliputi jawaban dari pertanyaan why (mengapa) dan how(bagaimana).

Body Lanjutan

Pada bagian ini, informasi ataupun data yang dilampirkan sebenarnya tidak terlalu penting. Walaupun dihilangkan oleh pihak editor, tetap tidak mempengaruhi substansi atau pokok utama berita tersebut.

Tips menulis bahasa jurnalistik untuk pemula

1. Jujur

Dalam menulis berita, Fakta merupakan hal yang memang apa adanya. Sama halnya dengan sebuah kejujuran, Anda tidak dapat mengurangi ataupun menambahkan informasi yang dapat merubah inti berita tersebut.

Opini dan penafsiran dari si penulis haruslah ditulis pada alinea berbeda, dan tunjukkan dengan jelas kepada pembaca mana yang merupakan fakta, opini dan penafsiran dari si wartawan. Berbohong dalam berita dapat diumpamakan sebagai dosa bagi seorang wartawan.

2. Perhatikan tanda baca koma

Berhati-hatilah dalam menempatkan tanda baca, khususnya koma. Jika salah menempatkannya, maka pembaca bisa salah mengartikan, contohnya:

“Rivaldi pembegal motor Rio, berhasil ditangkap” dan “Rivaldi pembegal motor, Rio berhasil ditangkap”.

Pada contoh ke-dua, tentu pembaca akan menafsirkan bahwa Rivaldi adalah pembegal motor, namun kenapa Rio yang ditangkap. Tentu kesalahan ini akan membingungkan pembaca. Untuk itu, perhatikanlah penempatan koma dengan sebaik-baiknya.

3. Catat secara mendetail, jangan handalkan ingatan

Sebagai seorang reporter, jangan hanya mengandalkan ingatan, khususnya saat melakukan liputan langsung di lapangan. Hal ini untuk menghindari kemungkinan kesalahan menulis data dan fakta. Dengan merekam saat liputan, tentu akan memudahkan Anda me-review kembali data atau informasi yang Anda dapat tadi.

4. Tulis kalimat dengan singkat, jelas dan padat

Ada kalanya Anda harus mampu menulis berita dengan singkat, jelas dan padat di waktu yang singkat. Misalkan, Anda akan menulis berita kriminal mengenai tindak pencurian, maka tulislah siapa yang menjadi pencuri, siapa korbannya, dan apa yang dicurinya. Jangan fokus menulis bagaimana proses pencurian itu dapat terjadi.

Hal yang paling mendasar dalam sebuah berita umumnya adalah apa dan siapa, lalu disusul dengan pertanyaan kapan, di mana barulah bagaimana dan mengapa.

Kesalahan saat menulis informasi rujukan terkadang juga sering terjadi. Contohnya, jangan tulis “Menurut Bapak Ardi, …” tanpa menjelaskan terlebih dahulu siapa Bapak Ardi itu, apakah dia saksi mata pencurian, warga sekitar, ataukah pihak berwajib.

5. Jangan melakukan plagiat

Jangan berpikir jika Anda mengutip beberapa berita dari sumber lain, maka tidak akan pernah diketahui. Percayalah, lambat laun pasti akan ada komplain yang dilayangkan ke dirimu.

Bagaimana cara menulis berita yang baik diatas? Banyak sekali artikel yang bertebaran di internet sebagai refrensi dan panduan cara menulis berita. Cara terbaik untuk mengasah kemampuan Anda dalam menulis berita adalah tetap mencoba dan berlatih secara terus menerus.
Refrensi:
Panduanjurnalistik.files.wordpress.com
Facebook Komunitas Orang jember
Kompasiana



Add Your Comments

Disqus Comments