Pengalaman Bekerja Menjadi Telemarketing [Cerita dari Seorang Blogger]

Pengalaman bekerja menjadi telemarketing - Artikel kali ini saya dapatkan dari seorang blogger yang berbagi pengalam pekerjaan pertamanya sebagai seorang telemarketing.

Berikut ini artikelnya:

Pengalaman pertama mendapat panggilan pekerjaan adalah hal yang cukup menggembirakan. Hal inilah yang paling ditunggu-tunggu setelah lulus dari perkuliahan.Bermula ketika mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak dikenal sama sekali. Begitu diangkat, nomor itu ternyata berasal dari perusahaan advertising.

Ternyata dahulu saya mengirimkan CV saat mengikuti jobfair bulan Januari kemaren. Saking seringnya saya mengikuti jobfair, sampai-sampai saya lupa pernah memasukan CV keperusahaan mana saja. Baca juga cara menulis daftar riwayat hidup yang menarik.

Saat mendapatkan panggilan ini, jujur saya merasa sedikit bimbang. Antara ingin mengambil pekerjaan ini, atau mencari pekerjaan lain yang memang sesuai dengan keinginan. Maklumlah, saat itu saya masih fresh graduate.

Namun, sebagai fresh graduate, tentu pengalaman bekerja menjadi telemarketing ini dapat menjadi pengalaman kerja pertama. Hitung-hitung sebagai proses pembelajaran juga di dunia kerja.

1. Telemarketing adalah?

Hari pertama saat menjalani pekerjaan ini, jujur saya sedikit bingung. Ketika mendapat pengarahan tentang pengertian telemarketing adalah, lambat laun sayapun mulai mengerti. Menjadi seorang 'Telemarketer' ternyata tidak jauh berbeda dengan dengan sales. Yang membedakannya adalah cara pemasaran produknya. Kegiatan telemarketing dilakukan melalui sambungan line telepon.

Jadi, job desk diperusahaan ini kurang lebih seperti itu. Karena masih masa probability, saya hanya melakukan validasi beberapa nama perusahaan. Barulah setelah seminggu, saya ditugaskan menelpon perusahaan-perusahaan tersebut dan meminta nomor kontak dan email untuk pengajuan penawaran iklan.

Apabila sudah mendapatkan kontak person, kita bisa langsung menghubungi dan mempresentasikan penawaran tersebut. Penawaran inilah yang disebut telemarketing.

2. Permasalahan sebagai telemarketing pemula

Selama saya menjadi telemarketing, saya merasa sedikit down. Mungkin mental saya belum cukup kuat. Apalagi jika mendapat bentakan dari costumer, rasanya bikin keder sendiri. Jika boleh jujur, saya yang kurang handal dalam berkomunikasi memang akan mengalami kesulitan, maka tidak perlu heran jika presentasi yang saya lakukan di telepon sering mendapat penolakan di awal.

Padahal saya tau harus berbicara apa, tetapi jika sudah gugup semua itu akan hilang. Dan jawabannyapun pasti sudah dapat ditebak. Ya, penawaran yang saya lakukan gagal.

Pekerjaan telemarketing rasanya cukup melelahkan untuk saya pribadi. Setiap harinya saya harus menelpon lebih dari tiga puluh nomer telepon. Walaupun sudah berusaha untuk lebih baik, nyatanya penolakan masih saya terima. Walaupun beberapa ada yang menjawab akan dipertimbangkan, namun hasilnya pastilah 50:50.

3. Antara passion, karakter dan pekerjaan

Sebulan sudah menjalani job desk telemarketing, rasanya saya mulai jenuh. Jujur saya merasa bimbang. Apakah harus bertahan atau mundur. Apalagi masa kerja saya terhitung beberapa bulan saja.Namun, berkerja memang harus didasari keinginan. Jika dirasa sudah setengah hati, tentu saja akan terasa sangat tidak nyaman.

Saya meras a bingung terhadap keadaan saya saat ini. Apa yang harus saya putuskan, apa tetap menjalani pekerjaan ini atau mencari pekerjaan lainnya.

Setelah berpikir beberapa hari, rasanya pekerjaan ini tidak cocok dengan karakter diri saya pribadi, namun di sisi lain saya tidak ingin kehilangan rekan kerja yang selalu membantu saya.

Berkerja memang bukan hanya soal passion dan gaji, namun juga soal kenyamanan dan lingkungan. Ada baiknya Anda menentukan apa passion Anda sebelumnya. Semoga pengalaman bekerja menjadi Telemarketing ini menjadi gambaran bagi Anda.

Kurang lebih itulah cerita seorang bloger. Inti dari pembicaraan tadi mungkin lebih kepada pilihan. A bukan berarti cocok untuk 1, dan B bukan berarti cocok untuk 2. Walaupun urutan mereka sama, baik di abjad atau angka, tetap hal itu bukan landasan. Termasuk dalam pilihan hidup.

Postingan terkait: