Iklan Banner yang Efektif Itu yang Seperti Apa? Bagaimana dengan IklanAnda?


Iklan banner yang efektif - Awal perkembangan iklan banner yang dapat di klik pertama kali muncul pada tahun 1990-an (sebelumnya banner hanya dapat dilihat).

Walaupun pemasaran internet semakin berkembang pesat hingga saat ini, nyatanya banner masih menjadi primadona para pengiklan dan pelaku pemasaran online. Hal ini terlihat dari masih berjayanya periklanan Google Display Network yang diprakasai oleh raksasa mesin pencari Google.

Penilaian banner iklan sudah tidak sama lagi seperti beberapatahun silam. Terlebih, perkembangan teknologi periklanan internet sudah menganut sistem real time bidding dan retargeting.

Hal paling mencolok dari banner iklan saat ini yaitu kemampuan menyesuaikan isi iklan banner yang tampil berdasarkan isi konten yang kita kunjungi, target audiens dan produk iklan yang berhubungan. Seperti saat kita membuka website atau blog network partner Google.

Saat itu kita akan melihat beberapa iklan yang related dengan isi konten ataupun sesuai dengan topik yang sedang kita cari kala itu, iklan yang tampil akan menyesuaikan.

Contohnya, ketika mencari produk handphone terbaru, dan kebetulan saya membaca sebuah artikel dari blog yang menjadi partner Google, misalkan detik.com, dari situ akan muncul banner e-commerce yang juga menjual beberapa produk hand phone.

Saat saya terus menjelajahi blog atau refrensi lainnya, iklan banner tersebut akan terus muncul dan mengikuti aktifitas browsing saya. Istilah itu dikenal sebagai remarketing.

Dari pemaparan tadi, terbesit sebuah pertanyaan klasik. Lantas, seperti apa bentuk banner yang efektif untuk kegiatan pemasaran online? Hal inilah yang akan coba dianalisis oleh RTB House.

Agar dapat menjawab pertanyaan itu, RTB melakukan beberapa analisa dari ratusan kampanye klien-klien perusahaan dari 33 negara yang ada di dunia. Analisis ini dilakukan untuk melihat elemen-elemen apa saja yang mampu meningkatkan kinerja kampanye dari banner iklan yang ada. Berikut ini hasil yang di ungkapkan RTB House.

Muat dan tampilkan produk lebih banyak

Salah satu pertanyaan yang sering muncul bagi seorang design grafis ketika membuat baner adalah berapa banyak produk yang sebaiknya tampil pada setiap banner iklan yang dibuatnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut RTB House menganalisis ribuan kampanye iklan dan membandingkan efektivitas banner yang menampilkan 2,3,4, dan 12 produk dalam satu banner.

RTB House memaparkan bahwa hampir seribu kampanye yang menggunakan banner dengan 2,3,4 dan 12 tampilan produk dalam satu buah banner, menunjukan hasil yang baik pada banner dengan jumlah 12 produk tampilan.

Banner dengan 12 produk tampilan menunjukan jumlah rata-rata CTR atau Click Through Rate di kisaran angka 0.55%, atau bisa dipastikan 20% lebih efektif dibandingkan banner dengan 3 produk, lebih baik 17% dari 2 produk dan 15% dari 4 produk.

Jakub Ratajczak, yang juga seorang Managing Director APAC di RTB House menyatakan, semakin banyak jumlah produk yang tampil pada sebuah banner, seolah membuat audiens memiliki banyak pilihan penawaran produk.

Tambahnya, hal ini juga merupakan salah satu strategi yang efektif jika kita menjual produk dengan brand yang memang diminati oleh banyak pengguna.

Contohnya seorang Apple boy, ia akan tertarik mengklik iklan Ipod yang saat itu juga menampilkan produk Apel lainnya, walaupun kala itu ia tidak berencana membeli Ipod, tetapi karena ia melihat kumpulan brand apple, ia pun tertarik untuk mengklik iklan tersebut.

Maksimalkan logo dengan posisi yang menarik perhatian

Posisi logo juga berperan terhadap keberhasilan dari kampanye online. RTB House juga memaparkan bahwa pemasangan logo pada sisi bawah banner iklan ternyata dapat memberikan kinerja yang cukup baik, sekitar 7% lebih dibandingkan penempatan logo pada posisi atas.

CTR pada banner dengan logo di posisi bawah, mencapai keberhasilan rata-rata 0,63%, selain itu, banner dengan logo di sisi atas hanya sebesar 0,59%.

Jakub juga memberikan pendapat mengenai hal ini. Menurutnya, menempatkan logo di sisi atas secara estetika lebih ideal, namun dari hasil analisisnya, hal ini malah memberikan hasil yang tidak selaras dengan efektivitas hasil iklan banner tersebut.

Dari beberapa kasus yang terjadi, posisi logo justru lebih menghabiskan ruang dari gambar produk yang ditawarkan, ataupun pesan yang harusnya menjadi nilai penting yang dapat mempersuasifkan audiens.

Eksperimen adalah modal untuk menemukan yang terbaik

Satu hal yang harus selalu diperhatikan seorang digital marketers adalah sesuatu yang sudah terbukti berhasil pada satu bidang industri, belum tentu hasilnya akan sama jika diterapkan pada industri lain yang berbeda.

Untuk itu sebaiknya pemasar selalu berinovasi dalam bereksperimen dengan segala ide kreatif yang mereka miliki. Setelah melewati beberapa percobaan, mereka akan menemukan komposisi terbaik daripenempatan, copy writing dan design banner yang tepat.

Ukuran banner besar adalah jenis terfavorit di Indonesia

Selain melakukan beberapa analisis terhadap market dunia, RTB House juga melakukan beberapa analisis terhadap 76 website e-commerce di Indonesia. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa para pemasar atau marketer di Indonesia cenderung lebih suka menampilkan konten harga dan diskon pada setiap banner iklan mereka. Ternyata hal ini juga banyak dilakukan oleh pangsa pasar Eropa

Di luar pasar Indonesia sendiri, RTB House melihat sebuah tren pada penggunaan tampilan banner produk yang lebih besar, yang juga menampilkan beberapa brand dan logo di seluruh kategorinya.

“Saat ini, para pemasar Indonesia masih melihat retargeting sebagai performance driven channel, yang juga senantiasa dimanfaatkan untuk meningkatkan brand awareness,” ungkap Ridzki Syahputera, Business Development Manager RTB House untuk Indonesia, sebagai penutupnya.