Profesi dan Cara Kerja Telemarketing

Profesi dan Cara Kerja Telemarketing - Ketika Anda memilih profesi telemarketing, sudah pasti akan bersinggungan dengan penolakan dan omelan calon klien yang Anda hubungi. Namun, hal itu tentu tidak perlu diambil pusing. Kejadian tersebut, tentu adalah hal yang wajar dalam dunia telemarketing.

Memang, telemarketing kerap dianggap sebagai kegiatan yang cukup mengganggu. Hal tersebut mungkin pernah juga kita rasakan entah di rumah bahkan di kantor sekalipun, misalnya kita dihubungi oleh telemarketer yang menawaran kartu kredit, tawaran pinjaman tanpa bunga, hingga tawaran lainnya yang terkadang cenderung memaksa.

Walau demikan, bagaimanapun, telemarketer tersebut memang memiliki job desk seperti itu. Jadi tentu saja kita tidak dapat menyalahkan apa yang mereka lakukan. Karena tuntutan profesi jugalah yang membuat mereka dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Namun, apakah ada cara yang membuat kegiatan telemarketing bisa lebih menarik dan minim penolakan. Ya, tentu saja ada!

Untuk Anda yang berprofesi sebagai telemarketer, mungik beberapa poin dan tips telemarketing kali ini bisa membantu Anda menjalankan profesi Anda agar lebih efektif.

Untuk menjadi telemarketer yang dapat membangun komunikasi yang efektif, hal yang harus Anda perhatikan diantaranya:

1. Tahu Alasan untuk Apa Anda Menelepon

Wajar saja, seorang telemarketer memang harus memiliki alasan dan tahu tujuan apa mereka menelepon calon konsumen atau memprospek orang yang mereka hubungi saat ini.

Tidak mungkin kita menghubugi seseorang tanpa alasan yang kuat. Jadi, pastikan tujuan Anda ketika menelpon calon konsumen sudah cukup jelas dan spesifik. Sehingga, Anda dapat menjelaskan  manfaat yang akan calon konsumen dapatkan dari komunikasi yang Anda bangun saat itu.

Seorang telemarketer juha diharuskan dapat berpikir dan mampu memberikan informasi yang memang singkat tanpa harus berbelit-belit. Siapa sih yang ingin akan membuang-buang waktu mendengar seseorang yang tidak jelas asal-usulnya menjelaskan produk atau jasa yang kita tidak tau manfaat dan gunanya untuk kita.

Dalam praktis ekonomi, seseorang akan membeli sebuah produk dengan pertimbangan  hemat biaya, cepat dan mampu menjadi solusi.

Jika seorang telemarketer ingin mendapatkan perhatian, tentu sangat penting untuk menjelaskan apa maksud tujuan secara lebih spesifik (khususnya ketika menawarkan jasa).

Untuk itu, seorang telemarketer juga diwajibkan memahami dan memiliki product knowledge secara mendalam dalam setiap kegiatan telemarketing yang ia lakukan.

2. Riset Sebelum Menelepon Calon Konsumen

Telemarketer yang cerdas selalu memulai dengan riset. Tidak perlu detail, cukup dengan melakukan riset kecil-kecilan mengenai calon konsumen Anda.

Salah satunya tentang, siapa dan apa jabatan yang diembannya di perusahaan (hal ini tentu berlaku juga saat Anda menawarkan produk atau jasa). Dengan melakukan riset sederhana terlebih dahulu, seorang telemarketer bisa meraih keberhasilan closing yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak.

salah satu tujuan riset yang kita lakukan ialah untuk memudahkan kita menyesuaikan kalimat dan pembicaraan ketika melakukan penawaran. Menjadi telemarketer yang detail-oriented pun ternyata harus ditunjang dengan penelitian juga bukan?

3. Membuat Strategi Menelepon

Dalam dunia telemarketing, membuat daftar pertanyaan yang tepat lebih susah daripada membalas pertanyaan yang diajukan konsumen. Salah satu kunci meraih kesuksesan dalam dunia marketing secara umum ialah selalu berfikir tentang segala hal yang bisa jadi akan di pertanyakan oleh konsumen. Untuk dapat menidentifikasi hal tersebut, setidaknya Anda harus merincikan beberapa hal terkait jasa dan produk Anda dengan mempertimbangkan 5W 1H (Why, Who, Where, When, What, dan How).

Tentu pedoman tersebut pun harus dijadikan dasar bagi telemarketer dalam mengerjakan tugasnya. Sebelum menelepon, terkadang Anda dapat kritisi kembali susunan kalimat yang Anda gunakan supaya dapat disesuaikan dengan keperluan calon konsumen. Dengan begitu, seorang telemarketer bakal mendapatkan feedback yang jauh lebih baik dari calon konsumennya.

4. Buat Komunikasi Seolah Mengobrol Biasa

Telemarkiting bukan berarti harus berkata baku. Mengikuti petunjuk yang telah diberikan memang benar, namun Anda juga harus pintar menyesuaikannya. Anda harus fleksibel seperti halnya berbicara kala bertatapan muka.

Walaupun saat mengobrol bertatapan muka pun terkadang beberapa orang bersikap kaku. Tapi, hal tersebut dapat dilatih dengan pengalaman dan jam terbang Anda.

5. Menelepon Tidah Harus Selalu Jualan

Ingatlah, menelepon calon konsumen bukan berarti. Jika memang seperti, pasti Anda akan langsung ditolak. Ada tujuan lain seorang telemarketer, yaitu menjalin relasi dengan calon konsumennya. Jika memang memungkinkan, dilain waktu Anda dapat melanjutkan penawaran kembali dengan melakukan follow up entah via email atau kembali menelpon.Jadi, jangan terlalu energik untuk berjualan, fokuskan pula dengan membangun relasi.

6. Menenangkan Diri

Beberapa telemarketer seringkali memiliki masalah berkomunikasi satu arah. Mereka terkadang selalu berbicara tentang keunggulan produk yang ditawarkan tanpa mendengarkan dan mengerti apa sesungguhnya keinginan dan keperluan calon konsumen tersebut butuhkan. Hal tersebut tentu saja cukup menyebalkan, bukan?

Memang tidak seluruh telemarketer memiliki sikaop yang fleksibel

Ingatlah, tujuan seorang telemarketer menelepon nasabah atau calon klien ialah untuk menciptakan awareness dan daya tarik dari produk atau jasa yang ditawarkannya. Tanda keberhasilannya dan ketertarikan konsumen adalah adanya feedback berupa pertanyaan sepanjang pembicaraan telepon itu dilakukan, bukan sebaliknya.

7. Telpon Pertama Kali Tidak Selalu Berhasil

Seperti penjelasan sebelumnya. Seorang telemarketer jangan terlalu focus dengan jualan dan jualan. Pada umumnya, telepon pertama kali tidak akan langsung membuahkan prospect deal. Hal itu harus disadari sebagai suatu kewajaran dalam pekerjaan bidang penjualan. Penelitian yang dilaksanakan DestinationCRM ini mengindikasikan bahwa paling tidak dibutuhkan 5 calon konsumen yang  dihubungi guna mendapatkan suatu prospect deal.

Kesimpulan

Bukanlah hanya sebatas jualan dan menelpon saja. Kegiatan telemarketing adalah kegiatan pemasaran yang dimulai dengan sejumlah riset tentang calon konsumen, dan membangun hubungan dan relasi yang baik dengan calon konsumennya. Sehingga, dari situlah ia akan tahu apa yang diinginkan calon konsumennya tersebut.

Postingan terkait: