Duka Penulis Artikel Freelance

Permarksaran.com – Menulis, aktifitas ini mungkin sudah menjadi hal yang biasa dilakukan setiap orang. Bahkan, kegiatan ini sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari setiap orang.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar pun kita sering melakukan aktifitas ini. Belum lagi saat menjadi mahasiswa, kita dituntut membuat berbagai tugas dan makalah ilmiah setiap harinya.

Tentu saja, aktifitas tulis menulis sudah menjadi hal yang sepele, bukan begitu? Berarti semua orang bisa melakukannya, bukan?

Ya, mungkin topik yang akan saya bahas kali ini cukup klise. Tapi rasanya sedikit mengganjal jika tidak diungkapkan. Bagaimana tidak, profesi penulis atau kegiatan tulis menulis kini dianggap sebagai aktifitas yang mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Apa itu masalahnya? Oh, bukan! Akar masalahnya yaitu anggapan bahwa aktifitas tulis menulis itu mudah. Sehingga, banyak orang yang menghargai jasa para penulis dengan harga sangat murah.

Entah itu content writer, copywriter, atau apapun profesi tersebut selagi berhubugan dengan kegiatan tulis menulis (apalagi jika penulis tersebut berstatus sebagai freelance) maka upah atau harga yang diberikan kerap bikin meringis.

Kita memang tidak bisa memukul rata akan hal ini. Banyak pula pihak yang masih menghargai profesi di bidang tulis menulis dengan bayaran yang sesuai. Walaupun, umumnya pihak tersebut pasti sudah berbadan perusahaan atau corporate besar.

Namun jangan salah, ada pula agensi pemasaran digital yang membayar upah para pekerja content writer freelance dengan bayaran yang cukup memuaskan.

Kembali ke topik utama kita. Menulis mungkin hanya dianggap sebagai kegiatan senggang. Hanya perlu berpikir, mencari ide sebentar, kemudian menuangkannya menjadi tulisan. Sekilas flow chart-nya mudah, namun bagaimana kenyataanya? Tentu alur tersebut hanya konsep pepesan kosong belaka.

Sama seperti memasak, resepnya sama, bahannya sama, tapi mengapa rasanya berbeda?

Setiap penulis tentu memiliki perspektif dan cara yang berbeda dalam mengupas sebuah objek tulisan. Semakin dalam, tentu semakin berbobot. Semakin lama riset yang dilakukan dalam mencari bahan dan dasar tulisannya, tentu semakin kredibel tulisan yang dibuatnya.

Anggapan akan hal-hal tersebutlah yang kini sudah pudar. Ya, para pemilik blog, atau perusahaan yang membutuhkan artikel untuk kegiatan content marketingnya, acap kali menghargai tulisan dengan sangat murah. Kalau Anda tidak percaya, coba Anda lihat di sribulancer.com atau projects.co.id.

Di sini, saya tidak membahas kedua platform tersebut. Mereka hanya sebatas media yang mempertemukan kita, sebagai freelance content writer dengan para klien yang membutuhkan jasa kita.

Dengan adanya kedua platform tersebut justru sangat membantu profesi kita sebagai seorang freelance.

Permasalahannya, yaitu mindset menulis itu mudah yang ada di pikiran para klien.

Apalagi, banyak sekali para penulis yang legowo tulisannya dihargai segitu. Dengan alasan, saya masih penulis pemula, rezeki jangan ditolak, atau alasan lainnya yang sebenarnya tidak ada korelasinya sama sekali.

Sikap para penulis yang seperti itu tentu membuat anggapan para pencari jasa penulisan berfikir memang segitulah harga yang pantas untuk sebuah karya tulis.

Kemudian anggapan ini pun dipikul rata kepada setiap penulis. Dan, beginilah akhirnya. Harga sebuah tulisan menjadi sangat murah, tanpa melihat kedalaman tulisan, EYD, originalitas dan kredibilitas penulis.

Mungkin kalian punya pengalaman berbeda? Atau, mungkin kalian punya cerita menarik seputar topik kali ini? Coba sharing pengalaman kalian, dan menurut kalian berapa harga yang pantas untuk sebuah artikel.

Mungkin saya akan persempit pertanyaan tersebut, menjadi: Berapa harga yang pantas untuk sebuah tulisan dalam bentuk artikel dengan 500 kata, bertopik produk gadget dan teknologi yang didukung data yang valid (bukan sekedar opini penulis)?

Related Posts:

  • No Related Posts