8 Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional


Iklan by Google

Iklan by Google

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional - Saat ini, asuransi sudah menjadi produk yang umum di kalangan masyarakat Indonesia. Walaupun pada mulanya masih dianggap asing, namun pemahaman masyarakat sudah mulai terbuka dengan produk proteksi yang satu ini.

Kebanyakan orang mungkin lebih mengenal asuransi konvensional, padahal saat ini juga sudah tersedia asuransi syariah. Apa itu asuransi syariah? Mari kita bahas lebih lanjut.

Pada pertengahan tahun1990-an, keberadaan Asuransi Takaful muncul sebagai pelopor asuransi syariah di Indonesia. Kemunculannya tersebut menjadi cikal bakal asuransi syariah di tanah air.

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional

Lantas, apa saja perbedaan asuransi syariah dan konvensional itu? Mari kita bahas satu persatu.

1. Perjanjian

Asuransi Syariah menggunakan akad hibah yang berlandaskan asas atau konsep saling menolong, dimana kedua belah pihak sama-sama tidak mengharap imbalan.

Sedangkan asuransi konvensional berbeda, jenis asuransi ini lebih seperti transaksi jual-beli. Dimana kedua pihak sama-sama mengharapkan keuntungan sebesar-besarnya dan kerugian sekecilnya. Para pemilik polis, tentu ingin apa yang diasuransikannya dapat di-cover sepenuhnya, sehingga jika terjadi sesuatu, pihak tersebut mendapatkan perlindungan. Sedangkan perusahaan asuransi tentu sebaliknya. Nah, sudah terlihat kan perbedaan mendasarnya.

2. Dana

Dana asuransi syariah dimiliki peserta asuransi. Peran perusahaan asuransi disini hanya sebagai pengelola dana saja, dan tidak mempunyai hak memiliki. Apabila asuransi konvensional, Dana premi yang dibayarkan para nasabah akan menjadi milik perusahaan asuransi tersebut.

3. Pengelolaan dana


Asuransi syariah memiliki proses pengelolaan dana setransparan mungkin, dan sepenuhnya diolah untuk keuntungan para pemilik polis. Sedangkan konvensional, perusahaan asuransi yang memiliki wewenang dalam menetapkan premi dan biaya tambahan lainnya, seperti biaya administrasi.

4. Sistem bagi hasil

Asuransi syariah menggunakan sistem keuntungan yang didapat dari pembagian hasil pengelolaan dana, dan akan dibagikan kepada semua peserta dan perusahaan asuransi secara merata. Sedangkan asuransi konvensional keuntungan dari kegiatan asuransi tersebut akan menjadi milik perusahaan asuransi.

5. Ada zakat

Dalam Asuransi syariah peserta atau pihak yang mendaftarkan dirinya diwajibkan membayar zakat, yang akan diambil sebagai keuntungan perusahaan. Sedangkan asuransi konvensional tidak memberlakukan hal ini.

6. Pengawasan dana

Asuransi syariah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) pada setiap perusahaan yang mengusung atau berbasis syariah. Tugas mereka yaitu mengawasi perusahaan agar selalu menaati prinsip dan konsep syariah yang diberlakukan, khususnya dalam mengelola dana asuransi. DPS memiliki tanggung jawab pula kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pada perushaan asuransi konvensional, pengawasan dana dilakukan oleh pihak internal atau manajemen perushaan itu sendiri. Dengan kata lain, tidak ada pihak luar yang berperan sebagai pengawas.

 7. Status dana

Dana pada asuransi syariah yang disetorkan para peserta asuransi dan dapat diambil apabila dalam perjalanannya peserta tidak sanggup melanjutkan pembayaran. Namun, akan ada potongan yang dibebankan, walaupun nominalnya tidak terlalu besar.

Sedangkan asuransi konvensional, jika peserta tidak sanggup membayar premi maka seluruh dana yang sudah disetorkan statusnya akan hangus. Dengan kata lain akan menjadi milik perusahaan asuransi tersebut.

8. Jenis investasi (unit link)

Dana unit link asuransi syariah hanya boleh diinvestasikan ke bidang yang dinilai tidak melanggar unsur-unsur yang tidak diperbolehkan oleh agama. Sedangkan pada asuransi konvensional, dana yang dikelola bebas diinvestasikan di bidang atau unit bisnis apa pun, asal itu investasi yang ditanamnya berpotensi mendatangkan profit.

Saat ini, produk asuransi syraiah sudah cukup menyeluruh, tidak hanya asuransi jiwa syariah, produk asuransi syraiah lainya pun juga sudah tersedia.

Dari beberapa poin diatas, kita sudah dapat mengambil inti dari perbedaan asuransi syariah dan konvensional. Yang pasti, asuransi syariah lebih menyasar segmentasi masyarakat muslim yang menginginkan konsep syariah pada produk asuransi yang dipilihnya.

Keputusan untuk memilih dan mendaftarkan diri Anda baik asuransi syariah ataupun konvensional, tentu Anda lah yang menentukan. Bagaimanapun, layanan asuransi amat berguna untuk kita kedepannya.

Terutama untuk Anda yang ingin merencanakan masa depan dengan lebih baik. Karena kita tidak dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita nanti, tentu asuransi dapat menjadi penolong dan meringankan beban biaya yang kita keluarkan. Seperti pepatah bijak mengatakan, “Sedia payung sebelum hujan”. Bagaimana? Siap mencoba asuransi syariah?